CURRICULUM VITAE
Personal Details :
Name : Zoraya Pelu
Gender : Female
Place and Date of Birth : Jakarta, 02 September 1988
Marriage Status : Single
Address : Jl. Budaya No. 77 Cililitan Jak-Tim
Contact Number : 081314777749
E-mail Address : zora_pelu@yahoo.com
Educational Background :
2006 – now : The London School of Public Relations, majoring Mass Communication
2003-2006 : SMA Negeri 62 Jakarta
2000-2003 : SMP Negeri 20 Jakarta
1994-2000 : SDN Negeri 01 Jakarta
Training and Courses :
Wall Street Institute
ANTV Citizen Journalist Seminar
Democracy Video Challenge 2009
Technical Skill :
Adobe Photoshop
Microsoft Office
Ulead Video Studio
Experience :
July – September : Work as Assistant in JCB
July 2008: Participant of Sparkling Glam Concert at Yamaha
July 2008: Assistant Property at Little Woman Theatre
Objective :
I want around the world by do a new experience.
Kamis, 09 April 2009
Rabu, 08 April 2009
Media Relations (Feature)
Hilangnya Masa Remaja Akibat Pergaulan Bebas
Oleh Zoraya Pelu
Pagi yang harusnya dimulai dengan indah, suram kembali ketika Ia melihat dari bilik tirainya sekelompok anak remaja berjalan untuk pergi sekolah. Apa yang terjadi padanya, mengapa Ia menangis?
Tika..sebut saja namanya seperti itu, seorang gadis remaja yang harusnya sekarang kelas 3 SMA. Hari itu hari Senin, hari dimana anak – anak sekolah pergi ke sekolah menggunakan pakaian putih – putih dan abu – abu. Ketika itu pukul 6.30 pagi, Tika melihat teman – teman sekolahnya pergi sekolah. Tawa dan canda.. Itulah yang tergambar saat anak – anak itu lewat melewati depan rumah Tika. Seolah tak ada beban yang mereka pikul, mereka pun melepas tawa sambil menyusuri depan rumah Tika, meraka tidak tahu apa yang tejadi pada sebuah rumah besar beratap genting coklat yang kokoh itu. Meraka tidak tahu bahwa di dalamnya ada seorang gadis sebaya mereka yang tidak dapat melanjutkan sekolahnya karena suatu kecelakaan kecil yang tak terduga akibatnya. Saat ini, yang mereka tahu adalah teman mereka yang bernama Tika kini telah pindah bersekolah ke luar negeri karena usaha Ayahnya yang semakin berjaya.
Tika, malang kian nasibnya.. Kini Ia baru memasuki umur 17 tahun, umur yang biasa disebut oleh anak – anak seumurannya dengan “ sweet seventeen ”. memang manis kedengarannya, tapi tak semanis apa yang dirasakannya kali ini.
Tika merupakan anak dari keluarga berada. Ayahnya seorang pengusaha dan Ibunya seorang Ibu rumah tangga. Meskipun hanya seorang Ibu rumah tangga, Ibu Tika juga seorang kolektor berlian. Orang tua Tika sangat menyayangi Tika, mereka selalu menuruti apa saja yang Tika mau, dari shopping barang – barang bermerk sampai berlibur ke luar negeri.
Tika bisa dikatakan anak yang pintar, Ia selalu berada dalam 10 peringkat pertama di kelas. Bagaimana tidak, waktunya selalu dipenuhi dengan berbagai macam les mata pelajaran di luar sekolah. Tika juga termasuk anak yang lincah dan ramah, sedari kecil Ibu Tika selalu mengikutsertakan Tika dalam berbagai macam lomba, dari lomba menari, menyanyi sampai lomba melukis.
Ketika naik ke kelas 2 SMA, Tika mengikuti ekskul dance atau menari.
Siapa yang tidak mengengalnya, Tika seorang gadis berkulit kuning langsat, berambut hitam pekat sepanjang bahu dan ikal pada bagian bawah, matanya yang berwarna hitam disertai bulu matanya yang lentik membuat matanya melahirkan tatapan yang tajam.
Belum lama ini, tepatnya pertengahan semester 2, Tika terpilih sebagai salah satu dancer terbaik yang mewakili sekolahnya untuk berkompetisi. Ia dan kesembilan teman dancenya yan lain ikut berkompetisi di sebuah SMA swasta yang lain. Disitulah awal perkenalan Tika dan Rian.
Ya…Rian…seorang siswa yang ditemui Tika saat lomba.
Rian hanyalah seorang laki – laki yang bisa dibilang tidak tampan tapi pintar, pintar dalam memikat hati Tika. Rian adalah siswa kelas 3 yang waktu itu menjadi salah satu penitia acara tersebut. Siapa yang menyangka awal pertemuan yang tidak disengaja itu berlanjut ke tahap yang lebuh meyakinkan untuk mereka berdua. Dari bertukar nomor handphone, menjemput Tika ke sekolah, mengajak nonton dan sampailah ke titik dimana Rian mengajak Tika ke rumahnya.
Hanya dalam waktu dua minggu, Tika berhasil jatuh ke pelukan Rian. Mereka memang melakukan semaunya dengan keadaan tidak terpaksa.
Suka sama suka… Itulah yang keluar dari mulut Rian pada Tika, saat Rian tahu bahwa Tika “telat” 2 minggu. Rian pun pergi meninggalkan Jakarta dan melanjutkan kuliah ke luar negeri. Sedangkan Tika…?! Yang seharusnya menikmati hari pertamanya di kelas 3, malah harus berdiri dan menangis melihat teman – teman seumurannya pergi sekolah.
Tikaa…Tikaaa…
Seks dari segi pendidikan…
Saat ini seks telah menjadi simbol remaja dalam kehidupan sehari harinya. Dari kalangan remaja kecil hingga remaja dewasa. Banyak remaja yang sudah tidak aneh lagi dengan kata – kata seks, bahkan sudah tidak malu lagi untuk membicarakan seks. Pembicaraan tentang seks sudah tidak tabu lagi di kalangan remaja dan sering sekali menjadi topik pembicaraan yang hangat antara remaja yang satu dengan remaja yang lainnya.
Free seks sekarang berkembang di kalangan remaja memang bukan hanya milik remaja yang memang mengais untung dari profesi jual dirinya , tapi dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal mereka pun melakukan seks bebas dengan lelaki yang disukainya. Cinta menjadi salah satu alasan yang paling utama dikemukakan oleh remaja.
Seperti yang kita ketahui seks bebas merupakan aktivitas yang mengandung risiko sangat tinggi. Berganti-ganti pasangan dalam melakukan hubungan seks akan berakibat terkena penyakit menular seksual, kehamilan yang tidak diinginkan, sampai terkena virus HIV.
Berikut free seks yang dilihat dari segi pendidikan menurut para ahli:
Menurut Sarlito dalam bukunya Psikologi Remaja (1994), secara umum pendidikan seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan. Masalah pendidikan seksual yang diberikan sepatutnya berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, apa yang dilarang, apa yang dilazimkan dan bagaimana melakukannya tanpa melanggar aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.pendidikan seksual merupakan cara pengajaran atau pendidikan yang dapat menolang muda – mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada dorongan seksual. Dengan demikian pendidikan seksual ini bermaksud untuk menerangkan segala hal yang berhubungan dengan seks dan seksualitas dalam bentuk yang wajar.
Menurut Singgih, D. Gunarsa, penyampaian materi pendidikan seksual ini seharusnya diberikan sejak dini ketika anak sudah mulai bertanya tentang perbedaan kelamin antara dirinya dan orang lain, berkesinambungan dan bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak serta daya tangkap anak ( dalam Psikologi praktis, anak, remaja dan keluarga, 1991). Dalam hal ini pendidikan seksual idealnya diberikan pertama kali oleh orangtua di rumah, mengingat yang paling tahu keadaan anak adalah orangtuanya sendiri. Tetapi sayangnya di Indonesia tidak semua orangtua mau terbuka terhadap anak di dalam membicarakan permasalahan seksual. Selain itu tingkat sosial ekonomi maupun tingkat pendidikan yang heterogen di Indonesia menyebabkan ada orang tua yang mau dan mampu memberikan penerangan tentang seks tetapi lebih banyak yang tidak mampu dan tidak memahami permasalahan tersebut.
Menurut Sarwono, 2006
Secara garis besar perilaku seksual pada remaja disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : Agama, budaya, adat istiadat sosial dan ekonomi. Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa perilaku seksual adalah tindakan yang dilakukan seseorang berdasarkan keinginannya terhadap sesuatu yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal.
Oleh Zoraya Pelu
Pagi yang harusnya dimulai dengan indah, suram kembali ketika Ia melihat dari bilik tirainya sekelompok anak remaja berjalan untuk pergi sekolah. Apa yang terjadi padanya, mengapa Ia menangis?
Tika..sebut saja namanya seperti itu, seorang gadis remaja yang harusnya sekarang kelas 3 SMA. Hari itu hari Senin, hari dimana anak – anak sekolah pergi ke sekolah menggunakan pakaian putih – putih dan abu – abu. Ketika itu pukul 6.30 pagi, Tika melihat teman – teman sekolahnya pergi sekolah. Tawa dan canda.. Itulah yang tergambar saat anak – anak itu lewat melewati depan rumah Tika. Seolah tak ada beban yang mereka pikul, mereka pun melepas tawa sambil menyusuri depan rumah Tika, meraka tidak tahu apa yang tejadi pada sebuah rumah besar beratap genting coklat yang kokoh itu. Meraka tidak tahu bahwa di dalamnya ada seorang gadis sebaya mereka yang tidak dapat melanjutkan sekolahnya karena suatu kecelakaan kecil yang tak terduga akibatnya. Saat ini, yang mereka tahu adalah teman mereka yang bernama Tika kini telah pindah bersekolah ke luar negeri karena usaha Ayahnya yang semakin berjaya.
Tika, malang kian nasibnya.. Kini Ia baru memasuki umur 17 tahun, umur yang biasa disebut oleh anak – anak seumurannya dengan “ sweet seventeen ”. memang manis kedengarannya, tapi tak semanis apa yang dirasakannya kali ini.
Tika merupakan anak dari keluarga berada. Ayahnya seorang pengusaha dan Ibunya seorang Ibu rumah tangga. Meskipun hanya seorang Ibu rumah tangga, Ibu Tika juga seorang kolektor berlian. Orang tua Tika sangat menyayangi Tika, mereka selalu menuruti apa saja yang Tika mau, dari shopping barang – barang bermerk sampai berlibur ke luar negeri.
Tika bisa dikatakan anak yang pintar, Ia selalu berada dalam 10 peringkat pertama di kelas. Bagaimana tidak, waktunya selalu dipenuhi dengan berbagai macam les mata pelajaran di luar sekolah. Tika juga termasuk anak yang lincah dan ramah, sedari kecil Ibu Tika selalu mengikutsertakan Tika dalam berbagai macam lomba, dari lomba menari, menyanyi sampai lomba melukis.
Ketika naik ke kelas 2 SMA, Tika mengikuti ekskul dance atau menari.
Siapa yang tidak mengengalnya, Tika seorang gadis berkulit kuning langsat, berambut hitam pekat sepanjang bahu dan ikal pada bagian bawah, matanya yang berwarna hitam disertai bulu matanya yang lentik membuat matanya melahirkan tatapan yang tajam.
Belum lama ini, tepatnya pertengahan semester 2, Tika terpilih sebagai salah satu dancer terbaik yang mewakili sekolahnya untuk berkompetisi. Ia dan kesembilan teman dancenya yan lain ikut berkompetisi di sebuah SMA swasta yang lain. Disitulah awal perkenalan Tika dan Rian.
Ya…Rian…seorang siswa yang ditemui Tika saat lomba.
Rian hanyalah seorang laki – laki yang bisa dibilang tidak tampan tapi pintar, pintar dalam memikat hati Tika. Rian adalah siswa kelas 3 yang waktu itu menjadi salah satu penitia acara tersebut. Siapa yang menyangka awal pertemuan yang tidak disengaja itu berlanjut ke tahap yang lebuh meyakinkan untuk mereka berdua. Dari bertukar nomor handphone, menjemput Tika ke sekolah, mengajak nonton dan sampailah ke titik dimana Rian mengajak Tika ke rumahnya.
Hanya dalam waktu dua minggu, Tika berhasil jatuh ke pelukan Rian. Mereka memang melakukan semaunya dengan keadaan tidak terpaksa.
Suka sama suka… Itulah yang keluar dari mulut Rian pada Tika, saat Rian tahu bahwa Tika “telat” 2 minggu. Rian pun pergi meninggalkan Jakarta dan melanjutkan kuliah ke luar negeri. Sedangkan Tika…?! Yang seharusnya menikmati hari pertamanya di kelas 3, malah harus berdiri dan menangis melihat teman – teman seumurannya pergi sekolah.
Tikaa…Tikaaa…
Seks dari segi pendidikan…
Saat ini seks telah menjadi simbol remaja dalam kehidupan sehari harinya. Dari kalangan remaja kecil hingga remaja dewasa. Banyak remaja yang sudah tidak aneh lagi dengan kata – kata seks, bahkan sudah tidak malu lagi untuk membicarakan seks. Pembicaraan tentang seks sudah tidak tabu lagi di kalangan remaja dan sering sekali menjadi topik pembicaraan yang hangat antara remaja yang satu dengan remaja yang lainnya.
Free seks sekarang berkembang di kalangan remaja memang bukan hanya milik remaja yang memang mengais untung dari profesi jual dirinya , tapi dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal mereka pun melakukan seks bebas dengan lelaki yang disukainya. Cinta menjadi salah satu alasan yang paling utama dikemukakan oleh remaja.
Seperti yang kita ketahui seks bebas merupakan aktivitas yang mengandung risiko sangat tinggi. Berganti-ganti pasangan dalam melakukan hubungan seks akan berakibat terkena penyakit menular seksual, kehamilan yang tidak diinginkan, sampai terkena virus HIV.
Berikut free seks yang dilihat dari segi pendidikan menurut para ahli:
Menurut Sarlito dalam bukunya Psikologi Remaja (1994), secara umum pendidikan seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan. Masalah pendidikan seksual yang diberikan sepatutnya berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, apa yang dilarang, apa yang dilazimkan dan bagaimana melakukannya tanpa melanggar aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.pendidikan seksual merupakan cara pengajaran atau pendidikan yang dapat menolang muda – mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada dorongan seksual. Dengan demikian pendidikan seksual ini bermaksud untuk menerangkan segala hal yang berhubungan dengan seks dan seksualitas dalam bentuk yang wajar.
Menurut Singgih, D. Gunarsa, penyampaian materi pendidikan seksual ini seharusnya diberikan sejak dini ketika anak sudah mulai bertanya tentang perbedaan kelamin antara dirinya dan orang lain, berkesinambungan dan bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak serta daya tangkap anak ( dalam Psikologi praktis, anak, remaja dan keluarga, 1991). Dalam hal ini pendidikan seksual idealnya diberikan pertama kali oleh orangtua di rumah, mengingat yang paling tahu keadaan anak adalah orangtuanya sendiri. Tetapi sayangnya di Indonesia tidak semua orangtua mau terbuka terhadap anak di dalam membicarakan permasalahan seksual. Selain itu tingkat sosial ekonomi maupun tingkat pendidikan yang heterogen di Indonesia menyebabkan ada orang tua yang mau dan mampu memberikan penerangan tentang seks tetapi lebih banyak yang tidak mampu dan tidak memahami permasalahan tersebut.
Menurut Sarwono, 2006
Secara garis besar perilaku seksual pada remaja disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : Agama, budaya, adat istiadat sosial dan ekonomi. Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa perilaku seksual adalah tindakan yang dilakukan seseorang berdasarkan keinginannya terhadap sesuatu yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal.
Media Relations (Feature)
Nama : Zoraya Pelu
Kelas : MC X – 5B
NIM : 2006100858
Free Seks “ hal biasa “
Jkt, 28/10 - Sadarkah Anda bahwa Free Seks merupakan hal yang biasa saat ini? Sebagian basar remaja Indonesia, khususnya Jakarta, tidak takut apabila melakukan hubungan terlarang tersebut tanpa didasari adanya suatu ikatan yang resmi.
Dalam sebuah acara bedah buku yang digelar oleh Icha Koorag, Pengamat Lingkungan, Selasa di Jakarta. Ia menjelaskan bahwa penelitian studi kualitatif yang dilakukan olehnya terhadap sebagian besar remaja, khususnya mahasiswa tahun 2007. meraka mengaku sudah pernah melakukan hubungan seks, baik sekedar pegangan ataupun penetrasi. Ketidaktakutan meraka terhadap dampak dari Free Seks tersebut sudah bisa diatasi karena tingkat kecerdasan meraka yang juga telah meningkat seiring terbukanya kesempatan memperoleh informasi.
Penanggulangan Seks
Jkt, 28/10 - “ Salah satu cara menanggulangi Free Seks adalah dengan menanamkan pendidikan agama dan pendidikan seks secara bersamaan “ tutur Dadang Hawari, Psikolog Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, Selasa di Jakarta.
Menurut dadang Hawari, pendidikan agama dan pendidikan seks harus diberikan secara bersamaan. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi kejahatan remaja dalam melakukan seks bebas. Pendidikan agama yang harus ditanamkan meliputi masalah akidah, syari’ah dan akhlak. Sedangkan pendidikan seks yang dimaksud adalah pendidikan seks melalui pendekatan psikologi.
Free Seks Merugikan Wanita
Jkt, 28/10 - Free seks yang masih menjadi pola hidup sebagian masyrakat, khususnya kalangan muda, ternyata berdampak negatif pada kaum perempuan, seperti yang dikemukakan Saraswati, Psikolog, dalam seminar Free Seks, Selasa di Jakarta.
Dalam kesepatan tersebut Saraswati mengatakan bahwa dari hasil penelitian terhadap sejumlah wanita yang melakukan seks bebas dalam pola hidupnya, merasa terjerumus karena hubungan tersebut tidak berakhir dalam pelaminan. Kebanyakan dari mereka merasa terperosok jauh karena bagi seorang wanita, free seks meninggalkan bekas yang tampak nyata luar – dalam.
Kelas : MC X – 5B
NIM : 2006100858
Free Seks “ hal biasa “
Jkt, 28/10 - Sadarkah Anda bahwa Free Seks merupakan hal yang biasa saat ini? Sebagian basar remaja Indonesia, khususnya Jakarta, tidak takut apabila melakukan hubungan terlarang tersebut tanpa didasari adanya suatu ikatan yang resmi.
Dalam sebuah acara bedah buku yang digelar oleh Icha Koorag, Pengamat Lingkungan, Selasa di Jakarta. Ia menjelaskan bahwa penelitian studi kualitatif yang dilakukan olehnya terhadap sebagian besar remaja, khususnya mahasiswa tahun 2007. meraka mengaku sudah pernah melakukan hubungan seks, baik sekedar pegangan ataupun penetrasi. Ketidaktakutan meraka terhadap dampak dari Free Seks tersebut sudah bisa diatasi karena tingkat kecerdasan meraka yang juga telah meningkat seiring terbukanya kesempatan memperoleh informasi.
Penanggulangan Seks
Jkt, 28/10 - “ Salah satu cara menanggulangi Free Seks adalah dengan menanamkan pendidikan agama dan pendidikan seks secara bersamaan “ tutur Dadang Hawari, Psikolog Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, Selasa di Jakarta.
Menurut dadang Hawari, pendidikan agama dan pendidikan seks harus diberikan secara bersamaan. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi kejahatan remaja dalam melakukan seks bebas. Pendidikan agama yang harus ditanamkan meliputi masalah akidah, syari’ah dan akhlak. Sedangkan pendidikan seks yang dimaksud adalah pendidikan seks melalui pendekatan psikologi.
Free Seks Merugikan Wanita
Jkt, 28/10 - Free seks yang masih menjadi pola hidup sebagian masyrakat, khususnya kalangan muda, ternyata berdampak negatif pada kaum perempuan, seperti yang dikemukakan Saraswati, Psikolog, dalam seminar Free Seks, Selasa di Jakarta.
Dalam kesepatan tersebut Saraswati mengatakan bahwa dari hasil penelitian terhadap sejumlah wanita yang melakukan seks bebas dalam pola hidupnya, merasa terjerumus karena hubungan tersebut tidak berakhir dalam pelaminan. Kebanyakan dari mereka merasa terperosok jauh karena bagi seorang wanita, free seks meninggalkan bekas yang tampak nyata luar – dalam.
Media Relations (News Release)
Zoraya Pelu, Metro TV
Menghargai Hak Paten Masyarakat Indonesia
Jkt, 27/1 - “ Peduli paten adalah tema yang kami angkat, mengingat bahwa sumber dari semua permasalahan yang ada adalah kurangnya kepedulian masyarakat mengenai masalah hak paten sehingga setiap ada hal baru yang merupakan hasil karya anak negeri dipatenkan lebih dahulu oleh orang luar maka barulah mereka angkat bicara karena merasa kecolongan, “ tutur Lorrain Eveline Swantika, Direktur Utama Butterfly Media Planner, Selasa di Jakarta.
Menurut Lorrain Eveline Swantika, hal ini terjadi dikarenakan tingkat kesadaran yang rendah dari masyarakat terutama para pengrajin industri juga seminar dan budayawan dalam mematenkan karya mereka. Seperti pengalaman yang diceritakan oleh Kinara dan Vina dalam Press Conference tesebut, dalam hal ini Kinara adalah seorang designer batik yang kecolongan karyanya dan Vina adalah seorang pemilik Soto Gebrak Gacil yang kecolongan bumbunya.
Meningkatkan kesadaran hak paten di masyarakat merupakan hal yang sangat penting saat ini, mengingat kurang dihargainya hak paten yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, Butterfly Media Planner menghimbau kepada masyarakat luas tentang pentingnya hak paten tersebut. Himbauan tersebut berupa penyuluhan yang dilakukan ke tiap – tiap daerah sasaran.
Zoraya Pelu, Lampu Merah
Banyak Anak, Banyak Masalah!!
Jkt, 27/1 - Sadarkah Anda bahwa budaya Indonesia “banyak anak, banyak rejeki” semakin merendahkan kualitas penduduk Indonesia? Budaya Indonesia telah mengalahkan program KB yang telah ada sebelumnya.
Terlupakannya masalah KB merupakan hal yang banyak perlu dicemaskan saat ini.
KB merupakan hal yang serius untuk dibahas saat ini, oleh karena itu Gerakan Nasional Keluarga Berencana (GNKB) yang merupakan bagian dari BKKBN bekerjasama dengan Mamen Media Planner untuk menggalakkan program KB. Program KB itu sendiri terbagi atas program jangka panjang dan jangka pendek.
Penyuluhan ke berbagai daerah merupakan bagian dari program jangka pendek GNKB sendiri, sementara itu mengadakan iklan kemasyarakatan dan penyebaran poster, flyer dan brosur tentang KB merupakan program jangka panjang dari GNKB. Diharapkan masyarakat Indonesia akan semakin peduli dengan program KB.
Zoraya Pelu, Hardrock fm
GNOTA GOES ONLINE
Jkt, 27/1 - Program “GNOTA Goes Online” merupakan sebuah program dimana masyarakat atau para Orang Tua Asuh dapat menyalurkan bantuannya melalui internet, seperti yang dikemukakan Cindytia Ika, tim media relations, dalam Press Conference, Selasa di Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Cindytia Ika mengatakan bahwa kini cara untuk menjadi orang tua asuh cukup mudah, yaitu hanya dengan menjadi e-parents dan mengunjungi situs resmi YLGNOTA (www.gn-ota.or.id). Dalam situs tersebut, para calon orang tua asuh hanya perlu mengisi data diri yang dibutuhkan dan memilih calon anak asuh yang akan mereka bantu. Bantuan tersebut dapat diberikan dengan cara mentransfer dana ke yayasan tersebut.
Kemudahan lain yang diberikan dalam situs ini adalah para e-parents dapat melihat foto, data diri anak asuhnya serta data penggunaan dana sumbangan melalui website tersebut. Penyaluran dana juga dilakukan secara kredibel dengan adanya transparansi dalam penggunaan dana tersebut. GNOTA sangat mengharapkan peran serta seluruh masyarakat untuk menggalakkan program ini.
Menghargai Hak Paten Masyarakat Indonesia
Jkt, 27/1 - “ Peduli paten adalah tema yang kami angkat, mengingat bahwa sumber dari semua permasalahan yang ada adalah kurangnya kepedulian masyarakat mengenai masalah hak paten sehingga setiap ada hal baru yang merupakan hasil karya anak negeri dipatenkan lebih dahulu oleh orang luar maka barulah mereka angkat bicara karena merasa kecolongan, “ tutur Lorrain Eveline Swantika, Direktur Utama Butterfly Media Planner, Selasa di Jakarta.
Menurut Lorrain Eveline Swantika, hal ini terjadi dikarenakan tingkat kesadaran yang rendah dari masyarakat terutama para pengrajin industri juga seminar dan budayawan dalam mematenkan karya mereka. Seperti pengalaman yang diceritakan oleh Kinara dan Vina dalam Press Conference tesebut, dalam hal ini Kinara adalah seorang designer batik yang kecolongan karyanya dan Vina adalah seorang pemilik Soto Gebrak Gacil yang kecolongan bumbunya.
Meningkatkan kesadaran hak paten di masyarakat merupakan hal yang sangat penting saat ini, mengingat kurang dihargainya hak paten yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, Butterfly Media Planner menghimbau kepada masyarakat luas tentang pentingnya hak paten tersebut. Himbauan tersebut berupa penyuluhan yang dilakukan ke tiap – tiap daerah sasaran.
Zoraya Pelu, Lampu Merah
Banyak Anak, Banyak Masalah!!
Jkt, 27/1 - Sadarkah Anda bahwa budaya Indonesia “banyak anak, banyak rejeki” semakin merendahkan kualitas penduduk Indonesia? Budaya Indonesia telah mengalahkan program KB yang telah ada sebelumnya.
Terlupakannya masalah KB merupakan hal yang banyak perlu dicemaskan saat ini.
KB merupakan hal yang serius untuk dibahas saat ini, oleh karena itu Gerakan Nasional Keluarga Berencana (GNKB) yang merupakan bagian dari BKKBN bekerjasama dengan Mamen Media Planner untuk menggalakkan program KB. Program KB itu sendiri terbagi atas program jangka panjang dan jangka pendek.
Penyuluhan ke berbagai daerah merupakan bagian dari program jangka pendek GNKB sendiri, sementara itu mengadakan iklan kemasyarakatan dan penyebaran poster, flyer dan brosur tentang KB merupakan program jangka panjang dari GNKB. Diharapkan masyarakat Indonesia akan semakin peduli dengan program KB.
Zoraya Pelu, Hardrock fm
GNOTA GOES ONLINE
Jkt, 27/1 - Program “GNOTA Goes Online” merupakan sebuah program dimana masyarakat atau para Orang Tua Asuh dapat menyalurkan bantuannya melalui internet, seperti yang dikemukakan Cindytia Ika, tim media relations, dalam Press Conference, Selasa di Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Cindytia Ika mengatakan bahwa kini cara untuk menjadi orang tua asuh cukup mudah, yaitu hanya dengan menjadi e-parents dan mengunjungi situs resmi YLGNOTA (www.gn-ota.or.id). Dalam situs tersebut, para calon orang tua asuh hanya perlu mengisi data diri yang dibutuhkan dan memilih calon anak asuh yang akan mereka bantu. Bantuan tersebut dapat diberikan dengan cara mentransfer dana ke yayasan tersebut.
Kemudahan lain yang diberikan dalam situs ini adalah para e-parents dapat melihat foto, data diri anak asuhnya serta data penggunaan dana sumbangan melalui website tersebut. Penyaluran dana juga dilakukan secara kredibel dengan adanya transparansi dalam penggunaan dana tersebut. GNOTA sangat mengharapkan peran serta seluruh masyarakat untuk menggalakkan program ini.
Print Media (Excecutive Summary)
Executive Summary
Away merupakan majalah yang fokus pada bidang travel. Travel yang dimaksud disini adalah travel dalam arti menjelajahi wilayah Indonesia. Away merupakan edisi pertama yang terbit pada bulan Januari 2009. Pada bulan Januari ini, Away sengaja meng-explore wilayah Indonesia yang jarang dikunjungi dan nyaris terlupakan. Oleh karena itu Away mengangkat headine “Flores Pulau Impian”. Selain headine tersebut, Away juga mengangkat sub-headline Ambon yang kini berbeda, Pulang kampung ke Toraja, dan Wakatobi.
Flores, Ambon, Toraja dan Wakatobi merupakan headline dan sub-headline yang cocok untuk mengawali edisi pertama Kami. Seperti yang kita ketahui empat wilayah ini masih kurang tersentuh sektor kepariwisataanya. Disini Kami mencoba meng-explore wilayah Indonesia yang sanagt jarang dikunjungi oleh wisatawan.
Di Flores misalnya, Laut Flores menunggu Anda khususnya para divers untuk menikmati kecantikan dan kekayaannya. Terumbu karang merah, biru, ungu, hijau serta perairan indah yang menantang arus dimana-mana. Tak luput juga dari pehatian, binatang – binatang yang bertebaran di dasar samudera jernih menjadi pemandangan bawah laut yang menabjubkan dan mempesona. Selain itu dapat kita nikmati wisata alam yang tak kalah jauh menariknya seperti Pulau Komodo dan Pulau Rinca serta berbagai kebudayaan dan kerajinan tangan yang terdapat disana.
Sementara di Ambon, kita dapat menemukan beberapa tempat bersejarah. Seperti di Desa Kaitetu kita dapat menemukan Masjid Wapauwe yang telah berdiri sejak 6 abad lalu, konon mesjid tersebut merupakan mesjid tertua yang dibangun di atas Gunung Wawane dan pembangunannya tanpa menggunakan paku. Pesona bawah laut Ambon yang tiada duanya serta pemandangan malam ditemani patung Martha Vhristina di Ambon juga menjadikan Ambon mempunyai keunikan tersendiri.
Sedangkan di Toraja, kekayaan dan tradisi tanah leluhur memang menjadi sesuatu yang membanggakan bagi masyarakat Toraja setempat. Bagaimana tidak?! Mitos dan legenda tentang asal – usul Toraja yang konon katanya diturunkan dari “surga” di salah satu daerah disana menjadi teka – teki yang menarik sampai saat ini. Selain itu juga terdapat mummi bayi yang sudah berumur lebih dari 459 tahun yang kononnya kini juga telah hilang.
Wakatobi memang diibaratkan seperti kepulauan Seribu-nya Sulawesi Tenggara. Penduduk Wakatobi sangat bergantung pada kekayaan bahari Indonesia sampai – sampai penduduk ini dijuluki sebagai masyarakat gypsi laut.
Edisi mendatang merupakan edisi bulan cinta. Headline yang Kami angkat adalah “Kesederhanaan dalam Valentine”. Headline ini membahas begaimana Kita dapat menikmati Valentine’s Day dengan harga miring. Harga miring yang dimaksud disini adalah menjelajahi tempat – tempat yang wajib dijelajahi pada bulan kasih sayang ini. Warung pinggiran yang mengadakan acara khusus saat Valentine seperti Roti bakar Edy bisa menjadi pilihan yang menarik serta tempat hiburan yang nyaris terlupakan seperti Monas dan Ragunan.
Selain itu tak lupa Kami menyajikan kuliner – kuliner yang cocok saat Valentine serta tips dan trik bagaimana menyiasati budget dalam berbusana saat Valentine’s Day.
Method of Qualitative (Bab I dan BabII)
Pengaruh Situs Friendster Terhadap Waktu Luang Remaja
(Studi Deskriptif: Pada Siswa SMA Negeri 62, Jakarta Timur)
Nama: Zoraya Pelu
Kelas: MC 10-5B
NIM: 2006100858
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Berbeda halnya dengan zaman purba, komunikasi pada saat ini telah melakukan teknologi canggih. Proses komunikasi yang dilakukan oleh manusia purba masih minimalis, yaitu dengan bahasa tubuh, dan simbol – simbol, yang dapat mereka mengerti namun belum ada peraturan ataupun penjelasan baku terhadap bahasa tersebut.
Komunikasi merupakan hal yang sangat penting dan fundamental dalam hidup manusia. Dengan berkomunikasi maka manausia itu dinyatakan ada dan diakui kehadirannya baik secara fisik maupun mentalnya. Manusia yang tidak melakukan komunikasi walaupun secara fisik ia dapat dilihat namun tidak dirasakan kehadirannya. Hal ini terdapat misalnya pada manusia yang mengalami gangguan mental. Secara fisik ia dapat dilihat namun tidak dapat diakui kehadirannya karena ia terasing dalam hal komunikasi.
Komunikasi diperlukan manusia untuk memenuhi kebutuhan yang paling mendasar seperti makan, menyampaikan pesan, bercakap – cakap dan sebagainya.
Kini hidup manusia sangat tergantung pada teknologi. Setelah telepon ditemukan beratus tahun lalu, perkembangan teknologi kian pesat dengan ditemukannya banyak alat dan cara berkomunikasi baru yang memudahkan manusia dalam melakukan proses komunikasi.
Teknologi sekarang telah menjadi urat nadi masyarakat di dunia. Di Indonesia khususnya di Jakarta, internet telah menjadi salah satu teknologi canggih yang digunakan oleh masyarakat, itu dikarenakan internet telah membantu kita dalam melakukan networking. Internet merupakan singkatan dari Interconnection Networking, yang secara sederhana juga bisa diartikan sebagai a global network of computer networks (Randal and Latulipe, 1995).
Menurut Houghton (20 Mei 2007) , pengguna internet di seluruh dunia sekitar 3 juta orang pada tahun 1994, melonjak menjadi sekitar 60 juta orang pada tahun 1996, dan 100 juta orang pada tahun 1998. Dan sekarang pengguna internet telah mencapai 1.093.430.359 orang. Itu merupakan suatu peningkatan yang luar biasa.
Seperti yang kita ketahui bahwa kawasan Asia merupakan pengguna internet paling besar di dunia, yakni 36% dari jumlah pengguna seluruh internet di dunia (lihat bagan di bawah) dan menurut Arwin Rasyid, Dirut PT Telkom terdahulu, pengguna di Indonesia merupakan pengguna internet terbesar di Asia, oleh karena itu mangsa pasar pengguna internet di Indonesia sangat potensial dan strategis.
Pada akhir 2006, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 18 juta orang.
Pada tahun 2007, menurut Sylvia W. Sumarlin, Ketua Umum APJII, pengguna internet di Indonesia berpotensi untuk bertambah 5 juta menjadi 23 juta pengguna. Dan jumlah ini akan terus melonjak, diperkirakan mencapai 60 juta pengguna pada tahun 2010 (www.republika.co.id, 1 Maret 2007 )
Internet memiliki peran yang sangat strategis dalam kehidupan di era informasi seperti sekarang ini, seperti akses informasi yang luas, e-mail, transaksi bisnis, promosi, chatting, situs sosial dan lain – lain.
Dari kesemua hal itu situs sosial merupakan suatu situs atau suatu jaringan yang sangat digandrungi oleh remaja, khusunya mahasiswa. Situs-situs tersebut antara lain Friendster, Facebook, MySpace, dan Yahoo Messanger.
Friendster merupakan suatu teknologi tracking untuk jaringan pertemenan. Situs yang mana ide penamaannya berasal dari nama Napster merupakan sebuah situs web jaringan sosial dimana seorang pengguna akan membuat identitas maya, kemudian calon pengguna dapat mengisi data dirinya untuk memperoleh account di Friendster.
Friendster dimulai sejak tahun 2002 oleh Jonathan Abrams. Friendster atau yang lebih familiar degan FS, juga telah memiliki fitur mulai tahun 2005 dan Friendster telah tumbuh menjadi situs jaringan sosial terbesar di Indonesia. Friendster dikunjungi 3,9 juta pengunjung unik setiap minggu. Ini lima kali lebih besar daripada kunjungan ke Facebook, yang hanya 700.000 pengunjung unik, sedangkan MySpace 530.000. (Alexa.com, 1April 2008). Hal tersebut menjadi potensi pasar yang besar di Indonesia dan menjadi incaran Friendster untuk mengembangkan sayap bisnisnya.
Di Asia, Friendster.com menjadi situs jaringan sosial terbesar yang dikunjungi rata-rata 32 juta pengguna internet setiap bulannya. Di Indonesia, Friendster memiliki lebih dari 8 juta pengguna terdaftar dan 4 juta pengunjung unik setiap bulan di friendster.com pada Februari 2008. Sementara 40 persen dari 25 juta pengguna internet yang ada di Indonesia memiliki akun Friendster.
Menurut David Jones, Vice President of Global Marketing Friendster, Ia akan membuka kantor resmi Friendster di Indonesia dalam tahun 2009, karena menurutnya Indonesia merupakan potensi market yang besar dengan pengguna Friendster mencapai 8 juta orang.
Pada kenyataannya, memang tidak semua orang yang tergabung dalam friendster tersebut memiliki identitas yang benar. Bisa saja mereka hanya sekedar untuk meramaikan dunia maya. Namun, banyak juga manfaatnya untuk tetap menjalin komunikasi dan memperluas relasi, karena kita dapat melihat teman dari teman kita dan seterusnya.
Situs jaringan sosial friendster yang mana banyak digunakan oleh masyarakat dari masyarakat di bawah umur sampai dewasa memang mempunyai sisi posisi dan negatif bagi penggunanya.
Secara umum friendster mempunyai manfaat seperti melatih kita dalam perkembangan era teknologi, mengatasi keletihan kita dengan bermain dan berinteraksi dengan orang lain, memperluas jaringan pertemenan dan lain-lain. Sisi-sisi negatif yang dimiliki friendster antara lain adalah malas, kecanduan untuk melakukan hal yang menurut orang lain tidak penting, terbengkalainya pekerjaan dan lain-lain. Dalam sehari yang mana terdapat 24 jam, 8 jam digunakan untuk bermain friendster di warnet ataupun di rumah oleh para users (siswa SMA). Dari awal pulang sekolah sekitar pukul 14.00 WIB, mereka bisa mendatangi warnet dengan masih memakai seragam sekolah hingga pulang ke rumah sampai pukul 20.00 – 21.00 WIB.
Banyak anak yang berumur sekitar 15 – 18 tahun diprediksi malas belajar karena mereka sering bermain friendster. Dari situlah sisi-sisi negatif dari friendster mulai mnucul. Padahal pada kenyataannya para ahli yang telah melakukan penelitian berpendapat bahwa anak – anak tersebut dapat memetik manfaat edukatif dari situs sosial tersebut.
Dalam penelitian itu terungkap bahwa melalui friendster atau situs soaial tersebut, siswa dapat belajar keterampilan teknologi dan kreativitas.selain itu, siswa juga dapat terbuka terhadap berita dan pandangan yang berbeda serta cara berkomunikasi yang tepat.
Penggunaan media internet khususnya dalam situs friendster memang membawa manfaat bagi siswa dalam memperkaya ilmunya dalam bidang teknologi, tetapi hal tersebut membuat penulis ingin mengetahui pengaruh penggunan friendster terhadap penggunaan waktu luang yang dimiliki siswa.
1.2 Perumusan masalah
Sebagaimana diilustrasikan di atas, kehadiran situs Friendster melahirkan suatu fenomena baru dalam proses interaksi sosial remaja Indonesia dewasa ini. Peranannya sebagai sebuah media komunikasi dalam interaksi sosial tersebut meupakan peristiwa yang menarik untuk diteliti lebih lanjut. Oleh karena itu upaya mempersempit ruang lingkup penelitian ini, berikut adalah rumusan permasalahan yang ditentukan yakni
“Adakah pengaruh situs Friendster terhadap waktu luang yang dimiliki siswa SMU Negeri 62 Jakarta Timur?”
1.3 Tujuan penelitian
Adapun tujuan penelitiannya adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh situs friendster.com terhadap penggunaan waktu luang yang dimiliki remaja ditinjau dari segi kognitif, afektif dan konatif.
I.4. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian dibagi menjadi dua, yaitu manfaat akademis dan manfaat praktis.
1.4.1. Manfaat Akademis
1. Dapat memperkaya pengetahuan bacaan mengenai ilmu komunikasi massa, khususnya di bidang internet.
2. Dapat digunakan sebagai bahan referensi bagaimana siswa yang akan melakukan penelitian pada kasus serupa.
1.4.2. Manfaat Praktis
1. Diharapkan penelitian juga dapat memberikan masukan kepada para pengguna internet, khususnya siswa dan para orang tua dalam menyikapi perkembangan dan manfaat internet khususnya dalam situs Friendster bagi para siswa.
2. Juga dapat dilakukan sebagai bahan referensi mahasiswa dalam meneliti kasus serupa.
1.5 Sistematika Penulisan
Bab I: Pendahuluan
Bab ini memberikan uraian – uraian yang berhubungan dengan topik yang dibahas yaitu, pengaruh Friendster terhadap siswa. Bab ini menguraikan alasan – alasan diangkatnya tema tersebut, juga menguraikan tujuan penelitian dan manfaat penelitian.
Bab II: Kerangka Teoretis
Bab ini menguraikan teori – teori yang relevan dengan masalah yang diteliti. Teori yang terdapat pada bab ini antara lain teori komunikasi, teori media massa, teori pengaruh dan teori situs Friendster yang berkaitan dengan topik yang dibahas.
Bab III: Metode Penelitian
Terdiri dari metode penelitian yang akan digunakan, yaitu penelitian deskriptif yang bersifat kualitatif. Jenis data yang digunakan adalah jenis data primer dan sekunder. Metode analisis data yang digunakan adalah menggunakan nilai rata-rata pengaruh Friendster terhadap para siswa.
Bab IV: Analisis dan Pembahasan
Bab ini menguraikan tentang objek penelitian secara lebih mendalam, juga tentang media komunikasi Friendster, serta hasil pengujian dilengkapi penjelasan tiap kuesioner yang disebarkan.
Bab V: Kesimpulan dan Saran
Bab terakhir memuat hasil kesimpulan yang diambil dari hasil analisis dan hasil penelitian. Selain kesimpulan, bab ini juga menyajikan saran yang merupakan sumbangan pikiran yang didapat dari hasil penelitian yang telah dilakukan.
BAB II
KERANGKA TEORETIS
2.1. Komunikasi
2.1.1 Definisi komunikasi
Komunikasi secara etimologis atau dari asal katanya, berasal dari bahasa Latin communicatio, dan perkataan ini bersumber pada kata communis. Arti communis disini adalah sama, dala m arti kata sama makna mengenai suatu hal (Wiryanto, 2004:5). Dalam perkembangannya, pengertian komunikasi datang dari para ahli dengan latar belakang yang berbeda. Defini singkat mengenai komunikasi pernah dikemukakan oleh pakar komunikasi, Gamble (2002 : 6)
“ Communication as the delebrate or accidental transfer of meaning” atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai sebuah proses penyampaian makna yang berlangsung dengan disengaja atau tanpa disengaja. Dari kelompok psikolog, Hovland, Janis dan Kelly dalam rakhmat (2003 : 3) komunikasi didefinisikan sebagai “ the process by which an individual (the communicator) transmit stimuli (usually verbal) to modify the behavior of other individuals (the audience)”. Menurut Everett M. Rogers, komunikasi adalah proses hal mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih dengan maksud mengubah perilaku (Nurudin, 2005:26). Dari definisi-definisi tersebut diatas dipahami bahwa komunikasi sebagai proses menyampaikan rangsangan yang bertujuan mengubah perilaku individu yang menerima pesan.
Sedangkan menurut Lasswell dalam Effendy (2002 : 29), yang juga merupakan seorang pakar komunikas, menyatakan bahwa “cara terbaik untuk menerangkan kegiatan komunikasi ialah menjawab pertanyaan “Who says In What Channel To Whom With What Effect?”. Dari definisi tersebut diketahui bahwa di setiap kegiatan komunikasi harus terdapat komponen –komponen komunikasi seperti komunikator, pesan yang disampaikan, media yang digunakan, komunikan dan efek yang diharapkan.
Menurut Effendy (2002:6), teknik berkomunikasi adalah cara atau “seni” penyampaian suatu pesan yang dilakukakn seorang komunikator sedemikian rupa, sehingga menimbulkan dampak tertentu pada komunikan. Pesan yang disampaikan oleh komunikator adalah pernyataan sebagai paduan pikiran dan pnjuran, dan erasaan , dapat berupa ide, informasi, keluhan, keyakinan, imbauan, anjuran, dan sebagainya.
Komunikasi dalam masyarakat dalam jenis menurut Bungin (2007:31-32) :
komunikasi individu dengan individu (komunikasi antar pribadi)
komunikasi kelompok
komunikasi organisasi
komunikasi sosial
komunikasi massa
2.1.2 Komunikasi Massa
Komunikasi massa menurut McQuail adalah komunikasi yang berlangsung pada tingkat masyarakat luas (Bungin, 2007:33). Merujuk pendapat Tan dan Wright, komunikasi massa merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tingga yang jauh (terpenca), sangat heterogen dan menimbulkan efek tertentu (Ardianto, 2005:3).
Michael W. Gamble dan Teri Kwal Gamble (1986) dalam Nurudin (2005: 35-36) mengutarakan sesuatu bisa dikatakan komunikasi massa jika mencakup:
Komunikator dalam komunikasi massa mengandalakan peralatan modern untuk menyebarkan atau memancarakan pesan secara tepat pada khalayak yang luas dan tersebar. Pesan itu disebarkan melalui media modern pula antara lain surat kabar, majalah, televisi, film atau gabungan diantara media tersebut.
Komunikator komunikasi menyebarkan pesan-pesannya bermaksud mencoba berbagi pengertian dengan jutaan orang yang tidak saling kenal atau mengetahui satu sama lain. Anonimitas audience dalam komunikasi massa inilah yang membedakan jenis komunikasi ini dengan komunikasi yang lain. Ini berarti, antara pengirimdan penerima pesan tidak saling mengenal satu sama lain.
Pesan adalah publik. Artinya bahwa pesan ini bisa didapatkan dan diterima oleh banyak orang dan bukan untuk sekelompok orang tertentu. Karena itu, pesan bisa diartikan milik publik.
Sebagai sumber, komunikator massa biasanya organisasi formal seperti jaringan, ikatan atau perkumpulan. Dengan kata lain komunikatornya tidak berasal dari seseorang, tetapi lembaga. Lembaga ini pun biasanya berorientasi pada keuntungan ekonomis dan bukan organisasi sukarela atau nirlaba.
Komunikasi massa dikontrol oleh pentapis informasi (gate-keeper). Artinya, pesan-pesan yang disebakan atau dipancarkan dikontrol oleh sejumlah individu dalam lembaga tersebut sebelum disiarkan lewat media massa. Ini berbeda dengan komunikasi antarpribadi, kelompok atau publik dimana yang mengontrol tidak dilakukan oleh sejumlah individu. Beberapa individu dalam komunikasi massa itu ikut berperena dalam membatasi, memperluas pesa yang disiarkan. Contohnya adalah seorang reporte, editor film, penjaga rubrik dan lembaga sensor lain dalam media itu bisa berfungsi sebagai gate keeper.
Umpan balik komunikasi massa sifatnya tertunda. Kalau dalam jenis komunikasai lain umpan balik bisa llangsung. Misalnya, dalam komunikasi antarpersonal. Dalam komuikasi ini umpan balik langsung dilakukan, tetapi komunikasi yang dilakukan lewat surat kabat tidak bisa langsung dilakukan alias tertunda (delayed)
2.1.3 Tujuan Komunikasi
Setiap aktivitas manusia yang dilakukan secara sadar, pasti memiliki tujuan tertentu. Demikian halnya kegiatan komunikasi juga memiliki tujuan.
Tujuan komunikasi menurut Effendy dalam Bungin (2007:35) :
perubahan sikap (attitude change)
perubahan pendapat (opinion change)
perubahan perilaku (behavior change)
perubahan sosial (sosial change)
2.1.4 Fungsi Komunikasi
Fungsi komunikasi menurut Effendy dalam Bungin (2007:35):
menyampaikan informasi (to inform)
mendidik (to educate)
menghibur (to entertain)
mempengaruhi (to influence)
Berdasarkan kerangka yang dikemukakan William I. Gorden dalam Mulyama (2004:5) ada empat funsi komunikasi yaitu komunikasi sosial, komunikasi ekspresif, komunikasi ritual dan komunikasi instrumental. Fungsi suatu peristiwa komunikasi (communication event) tampaknya tidak sama sekali independen, melainkan juga berkaitan dengan fungsi – fungsi lainnya, meskipun terdapat suatu fungsi yang dominan.
2.1.4.1 Fungsi Komunikasi Sosial
Fungsi komunikasi sebagai komunikasi soaial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri kita, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, anatar alain lewat komunikasi yang bersifat menghibur dan memupuk hubungan dengan orang lain (Mulyana, 2004:5).
Komunikasi ini bertujuan agar manusia mengetahui bagaimana harus bersikap pada sekelompoknya. Kebiasaan-kebiasaan baik umum maupun khusus biasanya terpengaruh oleh budaya yang dianut oleh kelompok tersebut. Tidak jarang berbagai kesalahpahaman terjadi pada hubungan antar budaya, tetapi hal tersebut masih dapat dimaklumi dan oleh sebab itu harus dipahami lebih dalam kebiasaan atau aturan – aturan yang dianut masing-masing budaya supaya kesalahpahaman dalam berkomunikasi dapat diminimalisir. Dengan berbicara, menyatakan pendapat makan orang lain akan menganggap keberadaan kita. Melalui komunikasi dengan orang lain, maka kebutuhan emosional dan intelektual pun terpenuhi dan kian terasah.
2.1.4.3 Fungsi komunikasi Ekspresif
Komunikasi ekspresif adalah suatu bentuk komunikasi yang menggunakan pesan – pesan non verbal untuk menyampaikan perasaan atau emosi kita (Mulyana, 2004:22).
2.1.4.3 Fungsi Komunikasi Ritual
Komunikasi ritual adalah komunikasi simblik yang biasanya dilakukan secara kolektif. Seperti peringatan hari jadi, peringatan budaya dan sebagainya. Kegiatan ritual memungkinkan para pesertanya berbagi komitmen emosional dan menjadi perekat bagi kepaduan mereka, juga sebagai pengabdian kepada kelompok (Mulyana, 2004:27). Substansi kegiatan ritual itu sendiri bukanlah yang terpenting melainkan perasaan senasib sepenanggunagan yang menyertainya, perasaaan keterikatan oleh sesuatu yang lebih bersifat abadi dan bahwa kita diakui dan diterima dalam kelompok kita.
2.1.4.4 Fungsi Komunikasi Instrumental
Komunikasi Instrumental adalah komunikasi yang bersifat persuasif atau membujuk, seperti menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan, dan mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan, dan juga untuk menghibur.
2.1.5 Model Komunikasi
Gordon Wiseman dan Larry Barker mengemukakan bahwa model komunikasi mempunyai tiga fungsi yaitu melukiskan proses komunikasi, menunujukkan hubungan visual an membantu dalam menemukan dan memperbaiki kemacetan komunikaso (Mulyana, 2004:123).
Menurut Schramm dalam mulyana (2004:140), komunikasi senantiasa membutuhkan setidaknya tiga unsur: sumber (source), pesan (message) dan sasaran (destination). Respon yang terjadi akibat komunikasi atau proses kembali dalam model disebut umpan balik atau feedback, yang berperan penting dalam komunikasi.
Model Alir Banyak – Tahap atau Multi – Step Flow model menyatakan bahwa pesan-pesan media massa menyebar kepada khalayak melalui suatu interaksi yang ama kompleks. Media mencapai khalayak dapat secara langsung dan dapat pula melalui macam – macam penerusan (relying) secara beranting, baik melalui pemuka – pemuka masyarakat (opinion leaders) situasi saling berhubungan antarsesama anggota khalayak (Wiryanto, 2004:87)
2.1.6 Efek Komunikasi
Efek komunikasi massa pada penelitian ini lebih dititikberatkan pada efek di bawah ini yang terdiri atas tiga efek, yaitu:
Efek Kognitif
Efek kognitif adalah akibat yang timbul pada diri komunikan yang sifatnya informatif bagi dirinya. Dalam efek ini akan dibahas tentang bagaimana media massa dapat membatu khalayak dalam mempelajari informasi yang bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitifnya (Ardianto dan Erdinaya, 2004:48)
Efek Afektif
Efek ini kadarnya lebih tinggi daripada efek kognitif, tujuan komunikasi massa bukan sekedar memberikan khalayan tentang sesuatu, tetapi lebih dari itu, khalayak diharapkan dapat turut merasakan perasaan iba, terharu, sedih, gembira dan sebagainya (Ardianto dan Erdinaya, 2004: 50)
Efek Konatif
Efek konatif timbul karena adanay pada diri individu mengacu pada perilaku, tindakan atau kegiatan khalayak yang tampak pada kegiatan sehari – hari. Setelah merasakan efek konatif itu sendiri dengan cara mempraktekkan apa – apa saja yang telah didapatnya. Dan munculah rasa ingin mengetahui yang lebih banyak dengan selalu melibatkan diri tiap individu-individu dalam setiap hal yang telah diterapkan juga dalam efek kognitif dan afektif.
Sedangkan dimensi sikap dikembangkan dalam tiga model, yaitu afeksi, kecenderungan perilaku, dan kognisi. Respon afektif adalag respon fisiologis yang memgekspresikan kesukaan individu pada sesuatu. Contohnya ketertarikan remaja terhadap situs friendster. Kecenderunga perilaku adalah indikasi verbal dari maksud seorang individu, yaitu pernyataan dan tindakan remaja yang menggemari situs Facebook mensingkronisasikan pernyataan sukanya dengan menggeluti Friendster dan meluangkan waktunya pada situs Friendster. Respon kognitif adalag pengevaluasian secara kognitif terhadap suatu objek sikap. Kebanyakn sikap individu adalah hasil belajar sosial dari lingkungannya.
2.2 Teknologi Komunikasi Internet
2.2.1 Pengertian Internet
Internet merupakan kependekan dari inter-network. Secara harafiah internet adalah jaringan dari beberapa jaringan dengan pertukaran informasi yang bebas (Swadley, 1994:8). “Internet is the network that is changing the way people communicate, interact and define communication.” Yang dalam bahasa Indonesianya berarti internet adalah sebuah jaringan yang mengubah cara manusia berkomunikasi, berinteraksi dan mendefinisikan komunikasi. Internet adalah sebuah inovasi dalam alat, baik perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware) yang melampaui batas ruang dan wktu serta menciptakan komunitas maya tersendiriyang dikenal dengan cybercommunity.
“Internet adalah sebuah jaringan komputer global, yang terdiri dari jutaan komputer yang selalu berhubungan dengan menggunakan protokol yang sama untuk berbagai informasi secra bersma. Internet merupakan kumpulan ataupenggabungan jaringan komputer lokal atau LAN menjadi jaringan komputer global atau WAN. Jaringan – jaringan tersebut saling berkomunikasi satu sama lain berbasiskan protocol IP (Internet Protocol) dan TCP (Transmission Control Protocol) atau UDP (User Data Protocol) sehingga jaingan dapat menggunakan layanan yang disediakan setiap jaringan” (Supriyanto, 2005:336).
2.2.2 Situs
Situs berasal dari kata site dalam bahasa Inggris. Menurut Febrian (2004:378), situs atau site adalah “Daerah jelajah di Internet, sebuah komputer yang terhubung dengan internet, dan menyajikan informasi atau layanan seperti newsgroup, e-mail atau halaman web”
Situs yang baik harus dilihat dari kacamata pemakai, artinya situs sudah "terpasang" (hosting) dan berfungsi termasuk bisa dicari (websearched) oleh siapapun "secara mudah" dari berbagai penjuruh dunia, dan yang terakhir dapat memberi kesan yang menarik dengan penyajian (presentasi) yang mudah diserap, informatif dan tidak ber-lebih2-an apalagi "misleading".
Situs yang baik terdiri dari beberapa kriteria umum plus kriteria khusus yang merupakan prioritas bagi website tertentu sesuai maksud dan tujuan. Misalnya website untuk memperkenalkan produk sebuah pabrikan untuk usaha ekspor bisa berbeda prioritas dengan website sebuah fashion house. Kemungkinan besar situs yang kedua memerlukan dukungan gambar2 grafik dan animasi yang canggih termasuk audio/video sedangkan situs eksportir hanya perlu photo pabrik/mesin dan produknya yang jelas dan tajam.
2.3 Remaja
2.3.1 Definisi remaja
Istilah remaja atau adolescene berasal dari bahasa Latin, dari kata adolescere yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Pada umumnya didefinisikan sebagai masa transisi dari masa anak-anak menuju asa dewasa.
“Berdasarkan Pasal 7 UU No.1/1974 tentang perkawinan, usia minimal untuk suatu perkawinan menurut undang – undang tersebut adalam enam belas tahun untuk wanita dan sembilan tahun untuk pria”. Dalam hal ini jelas bahwa undang-undang tersebut menganggap orang di atas usia tersebut bukan lagi anak-anak. Walaupun begitu dalam Pasal 6 ayat 2 Undang – undamg perkawinan disebutkan selam seseorang belum mencapai usia 21 tahun masih diperlukan izin orang tua untuk menikahkan orang tersebut” (Sarwono, 2005:6).
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan usia 15-24 tahu sebagai usia pemuda (youth). Di Indonesia, batasan remaja yang mendekati batasan PBB tentang pemuda adalah kurun waktu 14-24 tahun (Sarwono, 2005:10). Sedang kesimpulkan dari pendapat ahli, masa remaja dibagi menjadi dua yaitu masa remaja awal dan remaja akhir (Mappiere, 1982:27)
Berkaitan dengan konsep remaja di atas, peneliti menyimpulkan bahwa remaja adalah suatu fase peralihan dari masa anak-anak menjadi dewasa. Dai segi psikologis rentang usia emaja berada dalam usia 12-21 tahun untuk wanita, dan usia 13-22 tahun untuk laki-laki. Sedangkan dalam segi Hukum Pekawinan Indonesia, seseorang masih dianggap belum dewasa jika ia belum genap mencapai usia 21 tahun.
2.3.2 Remaja akhir
Rentangan usia remaja akhir adalah 17 sampai 21 tahu nuntuk wanita dan 18 sampai 22 tahun untuk pria. Dalam rentang itu terjadi proses penyempurnann pertumbuhan fisik dan perkembangan aspek – aspek psikis yang telah dimulai sejak masa – masa sebelumnya. Pada usia tersebut remaja menempuh jenjanng pendidikan perkuliahan yakni sebagai mahasiswa.
Ciri – ciri pokok yang membedakan remaja akhir dengan remaja awal, adalah mengenai pola – pola sikap, pola- pola perasaan, pola pikir, dan pola perilaku, lebih lengkapnya adalah sebagai berikut (Mappiare, 1982:38-40):
1. Stabilitas mulai timbul dan meningkat
Pada fase ini, remaja menunjukkan kestabilan fisik seperti pertumbuhan jasmani yang lebih sempurna contohnya keseimbangan tubuh. Adanya juga stabilitas minal seperti pendidikan, jabatan, pergaulan, pakaiana. Proses ini sangat dipengaruhi oleh cara didik oang tua.
2. Citra diri dan sikap pandangan yang lebih realistis
Remaja akhir telah menilai dirinya sabagaimana adanya, lebih menghargai miliknya, keluarganya, dan lain sebagainya dibandingkan pada fase remaja awal dimana remaja lebih sering tidak puas dengan apa yang dimilikinya. Remaja akhir sudah mulai menemukan jati diri dan konsep diri yang ada dan yang diinginkannya.
3. Perasaan menjadi lebih tenang
Dikarenakan pola pikir yang lebih matang, maka emosi remaja akan lebih tenang dibanding remaja awal.
2.3.3 Remaja dalam Interaksi Sosial
Pada periode masa remaja akhir, individu memiliki kepribadian tersendiri yang akan menjadi pegangan (falsafah hidup) dalam kedewasaan. Kepribadian individu tidak berdiri sendiri melainkan dipengaruhi hal-hal sekitarnya antara lain lingkungan sosial, keluarga dan hal-hal kecil yang dapat meningkatkan ataupun menurunkan harga diri seperti kemolekan atau kecacatan fisik, pakaian dan perhiasan, dan sebagainya. Teman – teman sebaya sangat berpengaruh terhadap citra diri atau konsep diri.
Konsep diri adalah pandangan kita mengenai siapa diri kita, dan itu hanya bisa kita peroleh lewat infomasi yang diberikan orang lain kepada kita (Mulyana, 2004:7). Konsep diri ini dibentuk sejak kecil dan terus berkembang sepanjang hayat. Proseskonseptualisasi diri ini tidak semata-mata berdiri sendiri, namun bergantung pula pada reaksi dan respons dari orang lain. Hal ini pula yang membuat manusia senantiasa memgejar aktualisasi diri. Orang berkomunikasi untuk menunujukkan dirinya eksis. Inilah yang disebut aktualisasi diri atau pernyataan eksistensi (Mulyana, 2004:12).penerimaan kelompok terhadap diri seorang remaj, rasa ikut serta dalam kelompok, memperkuat citra diri dan penilaian diri yang positif.
Pada fase ini remaja terus mencari kelompok yang dirasa tepat dan cocok untuknya. Penyesuaian diri akan kelompok kian besar agar diterima dalam kelompok tersebut dan merasa bangga karenanya. Pengaruh kelompok teman sebaya ini sangatlah kuat, sehingga terjadi beberapa perubahan seperti kebiasaan, pandangan, minat dan tingkah laku, penampilan, dan hal lainmenjadi suatu ciri kelompok tersebut. Kelompok – kelompok remaja memiliki nilai, norma ataupun simbol – simbol yang disepakati, dihargai dan dilaksanakan setiap anggotanya. Semakin banyak simbol – simbol dalam kelompok yang dapat diadopsi maka semakin besar pula dukungan sosial yang akan diterima.
BAB III
Metodologi Penelitian
Metode penelitian adalah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan – peraturan yang terdapat dalam penelitian. Singkatnya metode penelitian dapat diartikan sebagai cara bagaimana suatu penelitian dilaksanakan. Metode dan rancangan penelitian menentukan validnya penelitian. Dalam bab ini akan diuraikan metode penelitian yang digunakan oleh peneliti, meliputi studi kasus, subjek penelitian, teknik pengumpulan dan analisis data.
3.1 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode penelitian kualitatif.
Menurut Prof. Dr. Sugiyono (2005 : 1) metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen). Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), analisi data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.
Metode penelitian kualitatif muncul karena terjadi perubahan paradigma dalam memandang suatu realitas/fenomene/gejala. Penelitian kualitatif bertitik tolak dari paradigma fenomenologis yang objektivisnya dibangun atas namanya situasi tertentu sebagaimana yang dihayati oleh individu atau kelompok social tertentu dan relevan dengan tujuan dari penelitian itu.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, ini ditujukan agar peneliti dapat memperoleh informasi secar detail mengenai pengaruh friendster terhadap siswa – siswi SMA Negeri 62 Jakarta Timur kelas 3 angkatan 2008 – 2009. dengan menggunakan pendekatan kualitatif, memungkinkan peneliti untuk memperoleh data – data yang bersumber dari para siswa – siswi tersebut, sehingga peneliti bisa menghasilkan data deskriptif sebagai salah satu acuan dalam penelitian skripsi ini.
Metode yang digunakan dalam penelitian kali ini bersifat deskriptif. Dengan metode deskriptif, kita menghimpun data, menyusunnya secra sistematis, faktual dan cermat.
Sevilla, Ochave, Regal dan Uriarte (1993 : 61) mengatakan metode deskriptif dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang keadaan – keadaan nyata sekarang (sementara berlangsung). Tujuan utama dalam menggunakan metode ini adalah untuk menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara berjalan saat penelitian dilakukan dan memeriksa sebab – sebab dari suatu gejala tertentu. Penelitian deskriptif menentukan dan melaporkan keadaan sekarang.
3.2 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang melibatkan seseorang yang lain, memperoleh informasi dari seseorang lainnya dengan mengajukan pertanyaan – pertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu (Mulyana : 180).
Dalam penelitian kualitatif dikenal 3 jenis wawancara:
a) Wawancara percakapan informal
Wawancara cendurung bersifat terbuka dan tidak berstruktur sehingga wawancara mirip dengan percakapan.
b) Wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara
Wawancara dengan pedoman wawancara pada umumnya dimaksudkan untuk kepentingan wawancara yang lebih mendalam dengan lebih memfokuskan persoalan – persoalan yang menjadi pokok dari minat penelitian.
c) Wawancara dengan menggunakan open-ended standard
Wawancara jenis ini bersifat mendetail. Pertanyaan – pertanyaan yang diberikan lebih berstruktur dibandingkan kedua jenis wawancara yang lain. (Pawito 2007 : 132)
Dengan wawancara, peneiti dapat mengetahui lebih dalam tentang topik yang diteliti. Wawancara bertujuan agar penulis langsung bisa mendapatkan jawaban langsung dari narasumber.
3.3 Jenis Data
Data yang akan digunakan dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder.
a) Data Primer
Menurut Umar (2003 : 56), data primer merupakan data yang diperoleh langsung di lapangan oleh peneliti sebagai obyek penulisan. Metode wawancara mendalam atau in-depth interview dipergunakan untuk memperoleh data dengan metode wawancara dengan narasumber yang akan diwawancarai.
Wawancara akan dilakukan peneliti adalah wawancara dengan pedoman wawancara. Wawancara dengan penggunaan pedoman (interview guide) dimaksudkan untuk wawancara yang lebih mendalam dengan memfokuskan pada persoalan – pesoalan yang akan diteliti. Pedoman wawancara biasanya tak berisi pertanyaan – pertanyaan yang mendetail, tetapi sekedar garis besar tentang data atau informasi apa yang ingin didapatkan dari narasumber yang nanti dapat disumbangkan dengan memperhatikan perkembangan konteks dan situasi wawancara.
b) Data Sekunder
Menurut Sugiyono (2005 : 62), data sekunder adalah data yang tidak langsung memberikan data kepada peneliti, misalnya penelitian harus melalui orang lain atau mencari melalui dokumen. Data ini diperoleh dengan menggunakan studi literatur yang dilakukan terhadap banyak buku dan diperoleh berdasarkan catatan – catatan yang berhubungan dengan penelitian, selain itu peneliti mempergunakan data yang diperoleh dari internet.
3.4 Narasumber
Narasumber adalah orang yang menjadi sumber informasi (Hari Wijaya dan Djaelani 2004 : 40). Untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, peneliti akan mewawancarai narasumber yaitu beberapa siswa dan siswi SMA Negeri 62, Guru Komputer Sekolah dan Penjaga warnet.
3.5 Metode Analisis Data
Analisis data merupakan proses dimana data yang telah ada disederhanakan ke dalam bentuk yang lebih mudah lagi untuk dibaca dan diinterpretasikan finalis data dengan interpretasi data merupakan upaya untuk memperoleh arti dan makna yang lebih mendalam dan luas terhadap hasil penelitian yang akan dilakukan. Pembahasan hasil penelitian dilakukan dengan cara meninjau hasil penelitian secara kritis dengan teori yang relevan dan informasi masyarakat yang diperoleh dari penelitian. (Moleong, 2004 : 151)
Setelah memperoleh data melalui metode wawancara, peneliti mulai mangorganisasikan data – data tersebut dengan mendengarkan hasil rekaman wawancara secara berulang –ulang. Dengan demikian data – data yang diperoleh dapat disesuaikan dengan teori dan permasalahan penelitian yang dilakukan sebelumnya.
3.6 Waktu dan Lokasi Penelitian
Waktu dan penelitian (interview) dilakukan sejak bulan Januari hingga Juli 2008. Untuk melengkapi data, peneliti juga mengambil data sekunder melalui sumber – sumber yang berkaitan, sedangkan lokasi penelitian dilakukan di Jl. Raya Bogor, No 42, Jakarta Timur.
Daftar Pustaka
Bugn, Burhan, Sosiologi Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosidakarya, 2002
Effendy, Onong Vchjana Dinamika Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosidakarya, 2002
Gamble, Teri Kwal And Michael Gamble Communication Works Seventh Ed New York : MCGraw Hill, 2002
Hariwijaya. M dan Bisri M. Djaelani Teknik Menulis Skripsi dan Thesis. Yogyakarta : Zenith Publisher, 2004
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta, 2005
Moleong, Lexy J. Metde PenelitianKualitatif Edisi Revisi. Bandung : PT remaja Rosidakarya
Mulyana, Deddy, Metodologi Penelitian Kualitatif : Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial lainnya. Bandung : PT Remaja Rosidakarya, 2004
Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi Duatu Pengantar, Bandung : PT Remaja Rosidakarya
Nuruddin, Sistem Komunikasi Indonesia. Jakarta : PT Raja Wakindo
Rakhmat, Jalaludin. Metode penelitian Komunikasi. Bandug : PT Remaja Rosidakarya, 2001
Umar, Husein. Metode Riset Komunikasi Oraganisasi Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2003
Wiryanto. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : PT Grasindo, 2000
Sumber Lain:
www.republika.co.id
Media Relations (Feature)
Wanita Indah yang “malang”
Oleh: Zoraya Pelu
Wanita..!!Wanita..!!
Wanita memang diciptakan dengan keindahan yang tiada duanya. Wanita selalu menjadi objek yang indah bagi kaum adam.
Tapi apakah itu semua hanya terkaan belaka?!
Mengapa dari keindahan yang di anugerahkan kepadanya malah menjadikannya sebagai petaka?!
Hmmm…wanita…
Lagi-lagi wanita…
Wanita indah yang malang nasibnya…
Banyak wanita menginginkan virginitas sebagai sesuatu yang “diharuskan” tapi mengapa di lain pihak virginitas malah menjadi sesuatu yang “dilepas”?
Virginitas yang dilepas sebegitu mudahnya dapat menyebabkan hal-hal yang berdampak negatif dalam diri seorang wanita. Dampak tersebut antara lain seperti hamil di luar nikah yang menyebabkan putus sekolah, kehilangan kepercayaan diri hingga hilangnya masa muda.
Sebagai contoh adalah T yang merupakan anak dari seorang Pengusaha X yang harus putus sekolah karena hamil di luar nikah. Ia yang berumur sekitar 17 tahun dan bercita-cita menjadi seorang Psikolog, baru saja ingin melanjuti pendidikan ke salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta.
Tapi semua impian itu usai sekejap mata ketika Ia mengetahui bahwa dirinya positif hamil 2 minggu. W yang merupakan laki-laki yang ingin mempertanggungjawabkan ini semua, kini telah melanjutkan studinya ke negara lain tanpa meninggalkan pesan apapun kepada T. Alhasil T kini menanggung semua bebannya sendiri.
Masa muda indah yang menjadi obsesi para remaja, khususnya remaja wanita, hilang begitu saja dengan cepat hanya karena setitik noda. Noda yang dimulai dari kejantanan yang menguji mental sorang laki-laki dan berakhir tanpa penyesalan tapi menyisakan sebuah petaka yang berkelanjutan.
Bertanggung jawab..!!
Begitu mudahnya kata-kata itu keluar dari mulut seorang laki-laki. Tapi apakah ada kelanjutan dari kata-kata itu? Ataukah itu hanya sebuah kata-kata yang diciptakan tanpa sebuah kelanjutan?
Lalu..Apa yang harus dilakukan? Aborsi? Apakah justru itu jalan keluarnya?
Ataukah bunuh diri? Tentu saja tidak… Mau tidak mau semua itu harus Ia pertanggungjawabkan sendiri.
Panik, kacau, tak terarah, mungkin juga gila…
Itulah yang biasa dirasakan seorang wanita yang belum bisa dikatakan dewasa, saat mengetahui dirinya terjebak dalam setitik noda yang tak ia sangka berakhir begitu tragisnya.
Keceriaan yang harusnya masih menjadi ciri khasnya, mungkin akan tergantikan oleh tangis isak bayi dan tawa sendu yang diberikan oleh sang calon bayi.
Menyesal..? Ya… penyesalan memang selalu datang terlambat. Datang ketika keperawanan telah terenggut, sperma telah menyatu dengan sel telur, anak sudah berada dalam kandungan dan masa muda telah menjadi suram.
Semua itu hanyalah sebuah kenikmatan yang terjadi begitu cepat, menjanjikan sebuah janji palsu yang berakhir suram dan meninggalkan luka yang berkepanjangan.
Sebenarnya wanita bisa berhenti menjadi wanita malang apabila Ia menjadi penghalang bagi kaum adam.
Method of Qualitative
BAB III
Metodologi Penelitian
Metode penelitian adalah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan – peraturan yang terdapat dalam penelitian. Singkatnya metode penelitian dapat diartikan sebagai cara bagaimana suatu penelitian dilaksanakan. Metode dan rancangan penelitian menentukan validnya penelitian. Dalam bab ini akan diuraikan metode penelitian yang digunakan oleh peneliti, meliputi studi kasus, subjek penelitian, teknik pengumpulan dan analisis data.
3.1 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode penelitian kualitatif.
Menurut Prof. Dr. Sugiyono (2005 : 1) metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen). Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), analisi data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.
Metode penelitian kualitatif muncul karena terjadi perubahan paradigma dalam memandang suatu realitas/fenomene/gejala. Penelitian kualitatif bertitik tolak dari paradigma fenomenologis yang objektivisnya dibangun atas namanya situasi tertentu sebagaimana yang dihayati oleh individu atau kelompok social tertentu dan relevan dengan tujuan dari penelitian itu.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, ini ditujukan agar peneliti dapat memperoleh informasi secar detail mengenai pengaruh friendster terhadap siswa – siswi SMA Negeri 62 Jakarta Timur kelas 3 angkatan 2008 – 2009. dengan menggunakan pendekatan kualitatif, memungkinkan peneliti untuk memperoleh data – data yang bersumber dari para siswa – siswi tersebut, sehingga peneliti bisa menghasilkan data deskriptif sebagai salah satu acuan dalam penelitian skripsi ini.
Metode yang digunakan dalam penelitian kali ini bersifat deskriptif. Dengan metode deskriptif, kita menghimpun data, menyusunnya secra sistematis, faktual dan cermat.
Sevilla, Ochave, Regal dan Uriarte (1993 : 61) mengatakan metode deskriptif dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang keadaan – keadaan nyata sekarang (sementara berlangsung). Tujuan utama dalam menggunakan metode ini adalah untuk menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara berjalan saat penelitian dilakukan dan memeriksa sebab – sebab dari suatu gejala tertentu. Penelitian deskriptif menentukan dan melaporkan keadaan sekarang.
3.2 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang melibatkan seseorang yang lain, memperoleh informasi dari seseorang lainnya dengan mengajukan pertanyaan – pertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu (Mulyana : 180).
Dalam penelitian kualitatif dikenal 3 jenis wawancara:
a) Wawancara percakapan informal
Wawancara cendurung bersifat terbuka dan tidak berstruktur sehingga wawancara mirip dengan percakapan.
b) Wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara
Wawancara dengan pedoman wawancara pada umumnya dimaksudkan untuk kepentingan wawancara yang lebih mendalam dengan lebih memfokuskan persoalan – persoalan yang menjadi pokok dari minat penelitian.
c) Wawancara dengan menggunakan open-ended standard
Wawancara jenis ini bersifat mendetail. Pertanyaan – pertanyaan yang diberikan lebih berstruktur dibandingkan kedua jenis wawancara yang lain. (Pawito 2007 : 132)
Dengan wawancara, peneiti dapat mengetahui lebih dalam tentang topik yang diteliti. Wawancara bertujuan agar penulis langsung bisa mendapatkan jawaban langsung dari narasumber.
3.3 Jenis Data
Data yang akan digunakan dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder.
a) Data Primer
Menurut Umar (2003 : 56), data primer merupakan data yang diperoleh langsung di lapangan oleh peneliti sebagai obyek penulisan. Metode wawancara mendalam atau in-depth interview dipergunakan untuk memperoleh data dengan metode wawancara dengan narasumber yang akan diwawancarai.
Wawancara akan dilakukan peneliti adalah wawancara dengan pedoman wawancara. Wawancara dengan penggunaan pedoman (interview guide) dimaksudkan untuk wawancara yang lebih mendalam dengan memfokuskan pada persoalan – pesoalan yang akan diteliti. Pedoman wawancara biasanya tak berisi pertanyaan – pertanyaan yang mendetail, tetapi sekedar garis besar tentang data atau informasi apa yang ingin didapatkan dari narasumber yang nanti dapat disumbangkan dengan memperhatikan perkembangan konteks dan situasi wawancara.
b) Data Sekunder
Menurut Sugiyono (2005 : 62), data sekunder adalah data yang tidak langsung memberikan data kepada peneliti, misalnya penelitian harus melalui orang lain atau mencari melalui dokumen. Data ini diperoleh dengan menggunakan studi literatur yang dilakukan terhadap banyak buku dan diperoleh berdasarkan catatan – catatan yang berhubungan dengan penelitian, selain itu peneliti mempergunakan data yang diperoleh dari internet.
3.4 Narasumber
Narasumber adalah orang yang menjadi sumber informasi (Hari Wijaya dan Djaelani 2004 : 40). Untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, peneliti akan mewawancarai narasumber yaitu beberapa siswa dan siswi SMA Negeri 62, Guru Komputer Sekolah dan Penjaga warnet.
3.5 Metode Analisis Data
Analisis data merupakan proses dimana data yang telah ada disederhanakan ke dalam bentuk yang lebih mudah lagi untuk dibaca dan diinterpretasikan finalis data dengan interpretasi data merupakan upaya untuk memperoleh arti dan makna yang lebih mendalam dan luas terhadap hasil penelitian yang akan dilakukan. Pembahasan hasil penelitian dilakukan dengan cara meninjau hasil penelitian secara kritis dengan teori yang relevan dan informasi masyarakat yang diperoleh dari penelitian. (Moleong, 2004 : 151)
Setelah memperoleh data melalui metode wawancara, peneliti mulai mangorganisasikan data – data tersebut dengan mendengarkan hasil rekaman wawancara secara berulang –ulang. Dengan demikian data – data yang diperoleh dapat disesuaikan dengan teori dan permasalahan penelitian yang dilakukan sebelumnya.
3.6 Waktu dan Lokasi Penelitian
Waktu dan penelitian (interview) dilakukan sejak bulan Januari hingga Juli 2008. Untuk melengkapi data, peneliti juga mengambil data sekunder melalui sumber – sumber yang berkaitan, sedangkan lokasi penelitian dilakukan di Jl. Raya Bogor, No 42, Jakarta Timur.
Daftar Pustaka
Bugn, Burhan, Sosiologi Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosidakarya, 2002
Effendy, Onong Vchjana Dinamika Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosidakarya, 2002
Gamble, Teri Kwal And Michael Gamble Communication Works Seventh Ed New York : MCGraw Hill, 2002
Hariwijaya. M dan Bisri M. Djaelani Teknik Menulis Skripsi dan Thesis. Yogyakarta : Zenith Publisher, 2004
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta, 2005
Moleong, Lexy J. Metde PenelitianKualitatif Edisi Revisi. Bandung : PT remaja Rosidakarya
Mulyana, Deddy, Metodologi Penelitian Kualitatif : Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial lainnya. Bandung : PT Remaja Rosidakarya, 2004
Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi Duatu Pengantar, Bandung : PT Remaja Rosidakarya
Nuruddin, Sistem Komunikasi Indonesia. Jakarta : PT Raja Wakindo
Rakhmat, Jalaludin. Metode penelitian Komunikasi. Bandug : PT Remaja Rosidakarya, 2001
Umar, Husein. Metode Riset Komunikasi Oraganisasi Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2003
Wiryanto. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : PT Grasindo, 2000
Metodologi Penelitian
Metode penelitian adalah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan – peraturan yang terdapat dalam penelitian. Singkatnya metode penelitian dapat diartikan sebagai cara bagaimana suatu penelitian dilaksanakan. Metode dan rancangan penelitian menentukan validnya penelitian. Dalam bab ini akan diuraikan metode penelitian yang digunakan oleh peneliti, meliputi studi kasus, subjek penelitian, teknik pengumpulan dan analisis data.
3.1 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode penelitian kualitatif.
Menurut Prof. Dr. Sugiyono (2005 : 1) metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen). Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), analisi data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.
Metode penelitian kualitatif muncul karena terjadi perubahan paradigma dalam memandang suatu realitas/fenomene/gejala. Penelitian kualitatif bertitik tolak dari paradigma fenomenologis yang objektivisnya dibangun atas namanya situasi tertentu sebagaimana yang dihayati oleh individu atau kelompok social tertentu dan relevan dengan tujuan dari penelitian itu.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, ini ditujukan agar peneliti dapat memperoleh informasi secar detail mengenai pengaruh friendster terhadap siswa – siswi SMA Negeri 62 Jakarta Timur kelas 3 angkatan 2008 – 2009. dengan menggunakan pendekatan kualitatif, memungkinkan peneliti untuk memperoleh data – data yang bersumber dari para siswa – siswi tersebut, sehingga peneliti bisa menghasilkan data deskriptif sebagai salah satu acuan dalam penelitian skripsi ini.
Metode yang digunakan dalam penelitian kali ini bersifat deskriptif. Dengan metode deskriptif, kita menghimpun data, menyusunnya secra sistematis, faktual dan cermat.
Sevilla, Ochave, Regal dan Uriarte (1993 : 61) mengatakan metode deskriptif dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang keadaan – keadaan nyata sekarang (sementara berlangsung). Tujuan utama dalam menggunakan metode ini adalah untuk menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara berjalan saat penelitian dilakukan dan memeriksa sebab – sebab dari suatu gejala tertentu. Penelitian deskriptif menentukan dan melaporkan keadaan sekarang.
3.2 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang melibatkan seseorang yang lain, memperoleh informasi dari seseorang lainnya dengan mengajukan pertanyaan – pertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu (Mulyana : 180).
Dalam penelitian kualitatif dikenal 3 jenis wawancara:
a) Wawancara percakapan informal
Wawancara cendurung bersifat terbuka dan tidak berstruktur sehingga wawancara mirip dengan percakapan.
b) Wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara
Wawancara dengan pedoman wawancara pada umumnya dimaksudkan untuk kepentingan wawancara yang lebih mendalam dengan lebih memfokuskan persoalan – persoalan yang menjadi pokok dari minat penelitian.
c) Wawancara dengan menggunakan open-ended standard
Wawancara jenis ini bersifat mendetail. Pertanyaan – pertanyaan yang diberikan lebih berstruktur dibandingkan kedua jenis wawancara yang lain. (Pawito 2007 : 132)
Dengan wawancara, peneiti dapat mengetahui lebih dalam tentang topik yang diteliti. Wawancara bertujuan agar penulis langsung bisa mendapatkan jawaban langsung dari narasumber.
3.3 Jenis Data
Data yang akan digunakan dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder.
a) Data Primer
Menurut Umar (2003 : 56), data primer merupakan data yang diperoleh langsung di lapangan oleh peneliti sebagai obyek penulisan. Metode wawancara mendalam atau in-depth interview dipergunakan untuk memperoleh data dengan metode wawancara dengan narasumber yang akan diwawancarai.
Wawancara akan dilakukan peneliti adalah wawancara dengan pedoman wawancara. Wawancara dengan penggunaan pedoman (interview guide) dimaksudkan untuk wawancara yang lebih mendalam dengan memfokuskan pada persoalan – pesoalan yang akan diteliti. Pedoman wawancara biasanya tak berisi pertanyaan – pertanyaan yang mendetail, tetapi sekedar garis besar tentang data atau informasi apa yang ingin didapatkan dari narasumber yang nanti dapat disumbangkan dengan memperhatikan perkembangan konteks dan situasi wawancara.
b) Data Sekunder
Menurut Sugiyono (2005 : 62), data sekunder adalah data yang tidak langsung memberikan data kepada peneliti, misalnya penelitian harus melalui orang lain atau mencari melalui dokumen. Data ini diperoleh dengan menggunakan studi literatur yang dilakukan terhadap banyak buku dan diperoleh berdasarkan catatan – catatan yang berhubungan dengan penelitian, selain itu peneliti mempergunakan data yang diperoleh dari internet.
3.4 Narasumber
Narasumber adalah orang yang menjadi sumber informasi (Hari Wijaya dan Djaelani 2004 : 40). Untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, peneliti akan mewawancarai narasumber yaitu beberapa siswa dan siswi SMA Negeri 62, Guru Komputer Sekolah dan Penjaga warnet.
3.5 Metode Analisis Data
Analisis data merupakan proses dimana data yang telah ada disederhanakan ke dalam bentuk yang lebih mudah lagi untuk dibaca dan diinterpretasikan finalis data dengan interpretasi data merupakan upaya untuk memperoleh arti dan makna yang lebih mendalam dan luas terhadap hasil penelitian yang akan dilakukan. Pembahasan hasil penelitian dilakukan dengan cara meninjau hasil penelitian secara kritis dengan teori yang relevan dan informasi masyarakat yang diperoleh dari penelitian. (Moleong, 2004 : 151)
Setelah memperoleh data melalui metode wawancara, peneliti mulai mangorganisasikan data – data tersebut dengan mendengarkan hasil rekaman wawancara secara berulang –ulang. Dengan demikian data – data yang diperoleh dapat disesuaikan dengan teori dan permasalahan penelitian yang dilakukan sebelumnya.
3.6 Waktu dan Lokasi Penelitian
Waktu dan penelitian (interview) dilakukan sejak bulan Januari hingga Juli 2008. Untuk melengkapi data, peneliti juga mengambil data sekunder melalui sumber – sumber yang berkaitan, sedangkan lokasi penelitian dilakukan di Jl. Raya Bogor, No 42, Jakarta Timur.
Daftar Pustaka
Bugn, Burhan, Sosiologi Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosidakarya, 2002
Effendy, Onong Vchjana Dinamika Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosidakarya, 2002
Gamble, Teri Kwal And Michael Gamble Communication Works Seventh Ed New York : MCGraw Hill, 2002
Hariwijaya. M dan Bisri M. Djaelani Teknik Menulis Skripsi dan Thesis. Yogyakarta : Zenith Publisher, 2004
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta, 2005
Moleong, Lexy J. Metde PenelitianKualitatif Edisi Revisi. Bandung : PT remaja Rosidakarya
Mulyana, Deddy, Metodologi Penelitian Kualitatif : Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial lainnya. Bandung : PT Remaja Rosidakarya, 2004
Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi Duatu Pengantar, Bandung : PT Remaja Rosidakarya
Nuruddin, Sistem Komunikasi Indonesia. Jakarta : PT Raja Wakindo
Rakhmat, Jalaludin. Metode penelitian Komunikasi. Bandug : PT Remaja Rosidakarya, 2001
Umar, Husein. Metode Riset Komunikasi Oraganisasi Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2003
Wiryanto. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : PT Grasindo, 2000
Langganan:
Postingan (Atom)

