Hilangnya Masa Remaja Akibat Pergaulan Bebas
Oleh Zoraya Pelu
Pagi yang harusnya dimulai dengan indah, suram kembali ketika Ia melihat dari bilik tirainya sekelompok anak remaja berjalan untuk pergi sekolah. Apa yang terjadi padanya, mengapa Ia menangis?
Tika..sebut saja namanya seperti itu, seorang gadis remaja yang harusnya sekarang kelas 3 SMA. Hari itu hari Senin, hari dimana anak – anak sekolah pergi ke sekolah menggunakan pakaian putih – putih dan abu – abu. Ketika itu pukul 6.30 pagi, Tika melihat teman – teman sekolahnya pergi sekolah. Tawa dan canda.. Itulah yang tergambar saat anak – anak itu lewat melewati depan rumah Tika. Seolah tak ada beban yang mereka pikul, mereka pun melepas tawa sambil menyusuri depan rumah Tika, meraka tidak tahu apa yang tejadi pada sebuah rumah besar beratap genting coklat yang kokoh itu. Meraka tidak tahu bahwa di dalamnya ada seorang gadis sebaya mereka yang tidak dapat melanjutkan sekolahnya karena suatu kecelakaan kecil yang tak terduga akibatnya. Saat ini, yang mereka tahu adalah teman mereka yang bernama Tika kini telah pindah bersekolah ke luar negeri karena usaha Ayahnya yang semakin berjaya.
Tika, malang kian nasibnya.. Kini Ia baru memasuki umur 17 tahun, umur yang biasa disebut oleh anak – anak seumurannya dengan “ sweet seventeen ”. memang manis kedengarannya, tapi tak semanis apa yang dirasakannya kali ini.
Tika merupakan anak dari keluarga berada. Ayahnya seorang pengusaha dan Ibunya seorang Ibu rumah tangga. Meskipun hanya seorang Ibu rumah tangga, Ibu Tika juga seorang kolektor berlian. Orang tua Tika sangat menyayangi Tika, mereka selalu menuruti apa saja yang Tika mau, dari shopping barang – barang bermerk sampai berlibur ke luar negeri.
Tika bisa dikatakan anak yang pintar, Ia selalu berada dalam 10 peringkat pertama di kelas. Bagaimana tidak, waktunya selalu dipenuhi dengan berbagai macam les mata pelajaran di luar sekolah. Tika juga termasuk anak yang lincah dan ramah, sedari kecil Ibu Tika selalu mengikutsertakan Tika dalam berbagai macam lomba, dari lomba menari, menyanyi sampai lomba melukis.
Ketika naik ke kelas 2 SMA, Tika mengikuti ekskul dance atau menari.
Siapa yang tidak mengengalnya, Tika seorang gadis berkulit kuning langsat, berambut hitam pekat sepanjang bahu dan ikal pada bagian bawah, matanya yang berwarna hitam disertai bulu matanya yang lentik membuat matanya melahirkan tatapan yang tajam.
Belum lama ini, tepatnya pertengahan semester 2, Tika terpilih sebagai salah satu dancer terbaik yang mewakili sekolahnya untuk berkompetisi. Ia dan kesembilan teman dancenya yan lain ikut berkompetisi di sebuah SMA swasta yang lain. Disitulah awal perkenalan Tika dan Rian.
Ya…Rian…seorang siswa yang ditemui Tika saat lomba.
Rian hanyalah seorang laki – laki yang bisa dibilang tidak tampan tapi pintar, pintar dalam memikat hati Tika. Rian adalah siswa kelas 3 yang waktu itu menjadi salah satu penitia acara tersebut. Siapa yang menyangka awal pertemuan yang tidak disengaja itu berlanjut ke tahap yang lebuh meyakinkan untuk mereka berdua. Dari bertukar nomor handphone, menjemput Tika ke sekolah, mengajak nonton dan sampailah ke titik dimana Rian mengajak Tika ke rumahnya.
Hanya dalam waktu dua minggu, Tika berhasil jatuh ke pelukan Rian. Mereka memang melakukan semaunya dengan keadaan tidak terpaksa.
Suka sama suka… Itulah yang keluar dari mulut Rian pada Tika, saat Rian tahu bahwa Tika “telat” 2 minggu. Rian pun pergi meninggalkan Jakarta dan melanjutkan kuliah ke luar negeri. Sedangkan Tika…?! Yang seharusnya menikmati hari pertamanya di kelas 3, malah harus berdiri dan menangis melihat teman – teman seumurannya pergi sekolah.
Tikaa…Tikaaa…
Seks dari segi pendidikan…
Saat ini seks telah menjadi simbol remaja dalam kehidupan sehari harinya. Dari kalangan remaja kecil hingga remaja dewasa. Banyak remaja yang sudah tidak aneh lagi dengan kata – kata seks, bahkan sudah tidak malu lagi untuk membicarakan seks. Pembicaraan tentang seks sudah tidak tabu lagi di kalangan remaja dan sering sekali menjadi topik pembicaraan yang hangat antara remaja yang satu dengan remaja yang lainnya.
Free seks sekarang berkembang di kalangan remaja memang bukan hanya milik remaja yang memang mengais untung dari profesi jual dirinya , tapi dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal mereka pun melakukan seks bebas dengan lelaki yang disukainya. Cinta menjadi salah satu alasan yang paling utama dikemukakan oleh remaja.
Seperti yang kita ketahui seks bebas merupakan aktivitas yang mengandung risiko sangat tinggi. Berganti-ganti pasangan dalam melakukan hubungan seks akan berakibat terkena penyakit menular seksual, kehamilan yang tidak diinginkan, sampai terkena virus HIV.
Berikut free seks yang dilihat dari segi pendidikan menurut para ahli:
Menurut Sarlito dalam bukunya Psikologi Remaja (1994), secara umum pendidikan seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan. Masalah pendidikan seksual yang diberikan sepatutnya berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, apa yang dilarang, apa yang dilazimkan dan bagaimana melakukannya tanpa melanggar aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.pendidikan seksual merupakan cara pengajaran atau pendidikan yang dapat menolang muda – mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada dorongan seksual. Dengan demikian pendidikan seksual ini bermaksud untuk menerangkan segala hal yang berhubungan dengan seks dan seksualitas dalam bentuk yang wajar.
Menurut Singgih, D. Gunarsa, penyampaian materi pendidikan seksual ini seharusnya diberikan sejak dini ketika anak sudah mulai bertanya tentang perbedaan kelamin antara dirinya dan orang lain, berkesinambungan dan bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak serta daya tangkap anak ( dalam Psikologi praktis, anak, remaja dan keluarga, 1991). Dalam hal ini pendidikan seksual idealnya diberikan pertama kali oleh orangtua di rumah, mengingat yang paling tahu keadaan anak adalah orangtuanya sendiri. Tetapi sayangnya di Indonesia tidak semua orangtua mau terbuka terhadap anak di dalam membicarakan permasalahan seksual. Selain itu tingkat sosial ekonomi maupun tingkat pendidikan yang heterogen di Indonesia menyebabkan ada orang tua yang mau dan mampu memberikan penerangan tentang seks tetapi lebih banyak yang tidak mampu dan tidak memahami permasalahan tersebut.
Menurut Sarwono, 2006
Secara garis besar perilaku seksual pada remaja disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : Agama, budaya, adat istiadat sosial dan ekonomi. Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa perilaku seksual adalah tindakan yang dilakukan seseorang berdasarkan keinginannya terhadap sesuatu yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal.
Rabu, 08 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

aya......
BalasHapuskayaknya ngena banget ya buat para wanita khususnya yang mempunyai pengalaman seperti itu...
makanya aya jangan kayak gitu...hmmmm